TERUNGKAP 6 Fakta Kasus Penjualan 2 Pacar Seharga Rp 12 Juta, Ini Penjelasan AKP Tatang Panjaitan

oleh

Kasus penjualan pacar kepada pria hidung belang ternyata tidak hanya kali ini terjadi. Seperti kasus yang satu ini. Pacarnya dijual di media sosial seharga Rp 600 ribu. 

/////

Uri.co.id – Demi uang Rp 12 Juta, dua pria inisial YB dan AB, tega menjual pacarnya sendiri ke jaringan perdagangan manusia.

Kini YB dan AB masih berstatus buronan Polisi.

YB dan AB menjual pacar mereka, Dewantri alias DYM (20) dan Eka alias ESL (16) kepada Arituan Sonbai alias AS (32) dengan bayaran masing masing seharga Rp 12 juta.

Berikut kronologinya yang dipaparkan Kanit TPPO Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTT, AKP Tatang P Panjaitan di Mapolda NTT pada Jumat (31/5/2019).

1. Dijual kepada AS sebagai perekrut tenaga kerja ilegal

Kedua korban atas nama DYM dan ESL merupakan warga Kelurahan Alak Kecamatan Alak Kota Kupang.

Saat ini ESL masih berstatus anak di bawah umur.

Pelaku YB dan AB yang bersatus pacar korban DYM dan ESL.

Kedua wanita ini dijual kepada tersangka AS.

AS selama ini dikenal sebagai perekrut lapangan tenaga kerja ilegal.

Selanjutnya, tersangka AS mendatangi Rina Tumanggor alias KT (47).

KT adalah perempuan kelahiran Medan, Sumatera Utara.

KT berdomisili di Perumnas Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, NTT.

2. Jaringan di Kota Batam

AS menjumpai KT agar menghubungkan dengan orang yang dapat memberi pekerjaan untuk kedua gadis tersebut.

Tersangka KT kemudian menghubungi jaringannya Sukoyo alias Toyo alias S (44) di Kota Batam untuk dicarikan pekerjaan.

Untuk kedua gadis itu, Toyo kemudian mentransferkan uang melalui rekening BCA milik tersangka KT.

Kemudian KT mentransferkan uang tersebut kepada AS melalui rekening BRI milik JK yang merupakan rekan AS.

Usai transaksi tersebut, tersangka Sukoyo alias S kemudian mengirimkan kode booking tiket pesawat Kupang – Batam atas nama kedua korban kepada tersangka Filmon Sofyan Tlonaen alias FST (41) warga Maulafa Kota Kupang untuk diprint (dicetak).

“S menghubungi AS untuk koordinasi dengan KT. Lalu S memberi uang ke KT sebesar Rp 24 juta, sekaligus kode booking tiket pesawat Kupang – Batam. Selain itu S memberi juga uang operasional sebanyak Rp 2 juta,” ungkap Tatang.

3. Diberangkatkan dari Kupang ke Batam

Kedua korban, oleh jaringan tersebut diberangkatkan ke Batam melalui Bandar Udara El Tari Kupang pada 14 April 2019.

Sampai di Batam, keduanya ditampung di rumah S di Kelurahan Sadai, Kecamatan Bengkong, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Kemudian dibuatkan paspor dengan identitas palsu untuk mengelabui status ESL yang masih anak dibawah umur.

4. Korban menghubungi dari Malaysia

Kasus ini terbongkar setelah orang tua korban kaget mendapati informasi bahwa kedua korban tengah bekerja menjadi penjaga sekolah di Johor Malaysia.

Orang tua korban, Iriyanto Abdulah (40) kemudian melapor kejadian ini ke Polda NTT pada awal Mei 2019.

“Kedua korban telepon dan mengatakan bahwa mereka bekerja di Malaysia. Orang tua kaget karena mereka berangkat tanpa sepengetahuan orang tua, lalu lapor ke Polda NTT,” katanya.

Dari penyelidikan kemudian dapat diurai para tersangka dalam jaringan tersebut.

5. Polisi amankan pelaku

Polisi menangkap tiga orang pertama di Kupang pada tanggal 6 Mei 2019 yakni tersangka AS dan FST di Kelurahan Penfui Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Selanjutnya tersangka KT juga diamankan pada hari yang sama di kediamannya di Kelurahan Fatululi, Kota Kupang.

Setelah menyelidiki aktor dan pemberi dana, tim Unit TPPO berhasil membekuk tersangka S di kediamannya di Kelurahan Sadai, Kecamatan Bengkong, Kota Batam, pada 24 Mei 2019.

Penangkapan tersebut berhasil dilaksanakan dalam kerjasama dengan Tim Jatanras Polda Kepri setelah tim Polda NTT berada empat hari di Batam.

6. Pelaku pemain lama

Dari pendalaman polisi diketahui bahwa S merupakan pemain lama dalam jaringan perdagangan manusia antar negara yang mempekerjakan TKI ke Malaysia.

Sedangkan tersangka lainnya, KT, merupakan residivis kasus perdagangan manusia yang baru saja keluar dari Lapas Wanita Kelas 1 Kupang tiga bulan yang lalu.

Para tersangka akan dikenakan pasal berlapis yakni pasal 2 ayat (1), pasal 6, pasal 10 Undang Undang Nomor 21 tahun 2017 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman masing masing 15 tahun penjara.

Sedangkan dua tersangka lain saai ini masih diburu oleh tim TPPO Polda NTT.

Jual Pacar Seharga Rp 600 Ribu

Kasus penjualan pacar kepada pria hidung belang ternyata tidak hanya kali ini terjadi.

Peristiwa serupa ternyata pernah terjadi di Kabupaten Kediri.

Parahnya NA (23) pemuda asal Pare tega menjual pacarnya yang masih pelajar SMP melalui media sosial.

Tarif dikenakan sekali kencan dengan pacarnya yang masih di bawah umur itu dipatok seharga Rp 600 ribu.

Kepada Kapolresta Kediri AKBP Anthon Heryadi, NA mengaku mempekerjakan pacarnya untuk membantu mendapatkan uang.

“Kami hanya membantu teman saya mendapat uang,” ungkap NA di Mapolresta Kediri, Senin (7/8/2017).

Sejauh ini NA mengaku baru 6 kali menjual pacarnya. Kencan berawal dari kontak di media sosial, setelah cocok pelanggan kemudian diarahkan untuk memakai tempat kos dengan tarif per jam di Kelurahan Bandar Kidul, Kota Kediri.

Tempat kos milik MH ini memang disiapkan untuk tamu yang menginap guna berkencan. Tarifnya hanya Rp 50.000 per jam

Setelah pelanggan membayar, selanjutnya NA yang menjemput LA pacarnya di Papar, Kabupaten Kediri.

Kepada orangtua LA, NA berdalih mengajak jalan-jalan pacarnya ke Kota Kediri. “Pamitnya diajak jalan-jalan,” jelas Kapolresta.

Dari hasil pemeriksaan, NA yang menampung uang pembayaran pelanggan yang berkencan dengan LA.

“Tersangka tidak mengakui, namun faktanya hasil kerja pacarnya ditampung di rekeningnya. Kami akan periksa rekeningnya,” jelasnya.

Sementara SA (36) warga Nganjuk yang menjadi salah satu pelanggan mengaku sudah tiga kali berkencan dengan LA. “Ia (LA) memang yang menawarkan diri lewat medsos,” ungkapnya.

Selanjutnya SA terlibat chating dengan LA. Saat chating itu, LA memang menjual dirinya karena memosting foto dengan pose syur di media jejaring sosial.

Namun apes bagi SA, saat kencan yang ketiga kalinya dirinya yang tengah bercinta dengan LA digerebek polisi. Setiap kali kencan SA selalu membayar Rp 600.000.

Kasus persetubuhan yang melibatkan anak di bawah umur ini juga melibatkan MO (19) warga Kelurahan Jamsaren, Kota Kediri sebagai perantara dengan pemilik tempat kos.

Ada 4 tersangka jaringan prostitusi online yang diringkus polisi. Petugas mengamankan barang bukti buku tamu dan uang tunai Rp 1.100.000.

Selain itu juga disita HP merk Vivo warna hitam, HP merk Oppo warna hitam, HP merk Lenovo dan HP Nokia warna hitam.

Diamankan juga balpoin, kunci kamar yang dipakai mesum, sprei warna ungu serta kondom bekas pakai sebanyak dua buah. (Uri.co.id/Ryan Nong)

 Uri.co.id  BREAKING NEWS : Jual Pacar Seharga Rp 12 Juta, Dua Pria di Kupang Jadi Buronan Polda NTT ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!