Jelang Lebaran 2019, Seperti Ini Tingkat Hunian Hotel di Kota Medan dan Sekitarnya

oleh

Uri.co.id, MEDAN – Tingkat hunian (Okupansi) hotel di Medan menjelang Lebaran meningkat.

Misalnya saja diungkapkan Marketing Communication Hotel Grand Mercure Medan Angkasa, Lidya Tamara.

“Jelang lebaran ini, okupansi hotel lumayan meningkat karena banyak sekali yang balik ke daerah. Kalau biasanya daily kita itu sekitar 50 persen hingga 60 persen. Nah, jelang lebaran ini, okupansi hotel kita sudah mulai hampir 70 persen hingga 80 persen,” ujar Lidya, Kamis (30/5/2019).

Ia mengatakan biasanya semakin dekat lebaran okupansi hotel pun bahkan bisa mencapai 100 persen.
Peningkatan okupansi hotel ini terjadi sudah berlangsung dari seminggu sebelum Lebaran dan diyakini hingga beberapa hari setelah Lebaran.

Meskipun begitu, diakui Lidya, peningkatan okupansi hotel ini tidak terlalu signifikan karena adanya dampak tiket pesawat yang mahal.

“Kalau untuk perbandingan antara okupansi hotel 2018 dan 2019 itu tak terlalu meningkat. Untuk kenaikan occupancy dibanding tahun lalu sekitar 10 persen karena banyak tamu-tamu kita yang sudah kita ajak kembali menginap mengeluh karena tiket pesawat mahal jadi banyak yang enggak balik ke Medan,” ungkapnya.

Paket buka puasa kata Lidya, berpengaruh terhadap hunian kamar. “Paket buka puasa kita kebanyakan dari tamu luar malah yang menginap juga. Jadi bener-benar sangat luar biasa antusiasmenya sampai banyak yang enggak kebagian slot juga,” ucapnya.

Ia menjelaskan kamar yang paling banyak dipesan yaitu deluxe, premire dan kamar non smoking. Pilihan jenis kamar ini dipilih, kemungkinan karena customer juga banyak yang bawa keluarga.

“Kalau untuk hunian kamar, kita ada promo Lebaran jadi tamu banyak yang booking direct ke hotel. Harga kamar itu senilai Rp 699 ribu nett, sudah termasuk breakfast untuk tiga orang,” kata Lidya.

Ia menyarankan tamu yang ingin menginap bisa pesan kamar melalui website saja, www.AccorHotels.com karena tamu akan mendapat poin otomatis dan promo.

“Puncak pemesanan kamar itu sampai H+1 Lebaran. Saya harap semoga semakin banyak orang yang mau datang ke Kota Medan ini dan semoga kemudahan transportasi bagi wisatawan yang akan balik atau berkunjung ke Medan juga semakin mudah jadi okupansi hotel bisa lebih meningkat lagi,” ucapnya.

Sementara, Corporate Marketing Communication Manager Hotel GranDhika Indonesia, Ancha Apriansyah mengatakan jelang lebaran okupansi hotel di Kota Medan dan Semarang lebih kurang 45 persen, dan okupansi hotel di Kota Jakarta sangat rendah hanya sekitar 14 persen.

“Okupansi hotel saat ini masih biasa saja, untuk Medan dan Semarang kira-kira baru 45 persen. Kalau Jakarta sangat low sekitar 14,” ucap Ancha.

Ia menjelaskan untuk saat ini okupansi hotel hampir sama dengan tahun kemarin, meskipun begitu pihaknya optimis sampai Lebaran, pesanan kamar akan penuh.

“Pemesanan kamar itu lebih banyak di pertengahan Ramadan. Perbandingan dari tahun 2018 okupansi terlihat mulai H-3 naik pergerakannya. Tetapi tahun 2019 pergerakan ini lebih cepat, di H-7 sampai H-6 masih rendah sekitar 45 persen hingga 60 persen dan mulai H-5 okupansi kamar sudah mulai kelihatan naik sekitar 80 persen,” katanya.

Ancha mengaku Tanggal 1 Juni okupansi kamar sudah mulai naik sebesar 80 persen khususnya di Hotel GranDhika Setiabudi Medan. Pemesanan kamar yang paling banyak dibooking adalah tipe kamar superior dengan harga normal Rp 600 ribuan.

“Harga tiket pesawat yang mahal tidak mempengaruhi hunian kamar saat lebaran ini. Ya karena tipe orang Indonesia itu untuk lebaran apapun dilakukan untuk kumpul bareng keluarga, jadi walau tiket mahal mereka tetap ingin pulang kampung,” ungkapnya.

Ia berharap pihaknya selalu dapat memberi pelayanan terbaik kepada semua tamu. “Selamat berkumpul bersama keluarga, jangan lupa banyak banget kuliner di Medan yang pastinya jarang pemudik temui di kota lain. Untuk lebaran ini pun Hotel GranDhika Setiabudi Medan tawarkan menu untuk lebaran dan halal bihalal kumpul keluarga,” kata Ancha.

Dalam kesempatan yang berbeda, Public Relation Prime Plaza Hotel Kualanamu, Dewi Sartika mengatakan okupansi hotel yang paling dekat dengan bandara ini menurun karena tiket pesawat yang mahal.

“Walaupun ada penurunan harga tiket pesawat lebih kurang Rp 200 ribu tapi okupansi hotel di bulan Ramadan ini hanya 39 persen saja dari bulan biasanya yang mampu mencapai 70 persen,” ujar Dewi.

Diakui Dewi, pemesanan kamar paling banyak justru pada bulan April dan Mei. Meskipun begitu bila dibandingkan dengan tahun lalu, okupansi hotel tahun ini meningkat sembilan persen.

“Paket buka puasa kami sangat ramai tapi enggak mempengaruhi tingkat hunian hotel, karena paket buka puasa itu biasanya untuk orang kantoran dan masyarakat di Deliserdang,” ucapnya.

Menurut Dewi, kamar yang paling banyak dipesan yaitu kamar superior yang hanya dibanderol Rp 599 ribu.

Momen Lebaran membawa penurunan okupansi di sejumlah hotel yang mengutamakan market domestik. Pasalnya tidak semua hotel yang ada di Sumatera Utara (Sumut) mengambil pangsa pasar asing. Ada pula yang memang cenderung ke pasar domestik seperti mengandalkan kegiatan pemerintahan.

“Untuk hotel kami yang paling berpengaruh meningkatnya okupansi itu bisa dari pemerintahan atau kementerian yang membuat rapat atau seminar dengan menginap di hotel. Seperti kita tahu pemerintahan atau kementerian sangat banyak bidangnya,” ujarnya.

Ia berharap harga tiket mulai normal kembali sehingga semua orang tetap memilih pesawat untuk liburan ataupun tugas dari luar kota.

(nat/Uri.co.id) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!