Peran Strategis Kepemudaan, Kelompok Cipayung Sumut Ditantang jadi Pemimpin Masa Depan

oleh

Uri.co.id, MEDAN – Menggelar dialog bertema ‘Peranan Strategis Organisasi Kepemudaan dalam Meningkatkan Kinerja Komisi Kejaksaan’, Kelompok Cipayung ditantang untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

Tantangan tersebut datang dalam dialog yang turut mengundang Komisioner Komisi Kejaksaan Barita Simanjuntak selalu pemateri.

Kelompok Cipayung Sumut sendiri merupakan perkumpulan berbagai mahasiswa di Kota Medan yang diantaranya PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), PP Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Badko Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Komda Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) Sumagut.

Komisioner Komisi Kejaksaan RI Barita Simanjuntak mengatakan bahwa dirinya merupakan seorang aktivis kahasiswaan 20 tahun silam.

Ia pun berkelakar, bahwa untuk menjadi seperti dirinya, para mahasiswa perlu meningkatkan integritas dan kepercayaan diri dan membekali keilmuan.

“Kalau kalian mau seperti saya barangkali butuh 20 tahun agar bisa berdiri di sini,” ujarnya disambut gelak tawa mahasiswa yang hadir di ruang rapat Hotel JW Marriott, Medan, Selasa (28/5/2019).

Baginya, perkumpulan mahasiswa merupakan lembaga nonpemerintah yang dapat dipercaya. Sebab katanya, mahasiswa merupakan pemuda yang dibekali oleh ilmu dan masih memiliki idealisme yang tinggi.

Mendukung keterangannya, ia pun menyebutkan beberapa nama politikus nasional dan tokoh masyarakat yang berasal dari perkumpulan mahasiswa zaman dulu.

“Saat saya menjadi aktivis mahasiswa, saya seangkatan dengan Anas Urbaningrum, Muhaimin Iskandar dan beberapa tokoh lain. Jauh sebelum itu ada bapak Akbar Tanjung yang merupakan tokoh mahasiswa Islam. Ini bukti bahwa setiap zaman ada tokohnya,” ujar Barita kembali.

Dikatakannya, mahasiswa merupakan generasi yang harus berani berkata benar. Mahasiswa disebutnya tidak boleh dibayar untuk segala aksi yang mengatasnamakan bangsa.

“Pilar demokrasi adalah masyarakat. Masyarakat yang mana, ada mahasiswa namanya. Mahasiswa itu adalah mahasiswa yang jika benar mengatakan benar dan salah katakan salah. Bukan yang disponsori,” tukasnya.

Ia berharap idealisme, integritas dan profesionalitas mahasiswa dapat bertahan, apalagi dalam membangun kesadaran hukum bersama Komisi Kejaksaan RI. Besar kemungkinan bahwa dari mahasiswa lah berbagai kritik,saran dan laporan masuk ke Komisi Kejaksaan.

“Bukan tidak mungkin kita bekerja sama ke depan,” pungkasnya.

Hal yang sama juga dikatakan mantan ketua GMKI yang kini menjabat sebagai salahsatu anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan. Ia mengatakan agar kiranya mahasiswa Cipayung dapat belajar menjadi pemimpin ke depan melalui profesi profesi yang bersentuhan dengan masyarakat.

“Bahkan tak banyak wartawan saat ini yang berasal dari perkumpulan mahasiswa. Jadi mahasiswa yang berorganisasi ini ke mana sekarang?,” Ujar Sutrisno yang hadir sebagai pemateri bersama Barita Simanjuntak dan Osriel Limbong

Sebelumnya, kelompok mahasiswa Cipayung yang hadir memberikan sambutan, menyepakati bahwa persatuan dan kesatuan di Indonesia adalah harga mati. Salahsatu yang mengatakannya adalah Ketua PMII Adzlansyah.

Ia berujar bahwa kegiatan bersama Komisi Kejaksaan RI merupakan semangat positif. Adanya kegiatan tersebut pun ia nilai merupakan tuntutan bagi kelompok Cipayung.

“Artinya apa, kita sebagai pemuda ditantang lebih bersikap pada situasi negara saat ini. Namun belajar dari organisasi kami di NU bahwa mencintai tanah air adalah sebagai keimanan. Kita harus mampu menciptakan narasi narasi dan menjauhi segala bentuk provokasi perpecahan,” ujarnya.

(cr15/Uri.co.id) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!