Bertahun-tahun di Rumah Pengungsian Sinabung, Lidiawati Rindu Berlebaran di Kampung Kelahiran

oleh

Uri.co.id, SIMPANGEMPAT – Setelah beberapa minggu menjalankan ibadah puasa, tak terasa lebaran Idul Fitri tinggal menghitung hari lagi. Selain waktunya bermaaf-maafan, lebaran juga dijadikan sebagai ajang kumpul sanak saudara di kampung halaman.

Namun, bagi korban erupsi Gunung Sinabung nampaknya sudah beberapa tahun terakhir tidak bisa menikmati lebaran di kampungnya. Seperti yang dirasakan oleh pengungsi asal Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat Lidiawati.

Lidiawati mengaku, sejak tahun 2013 dirinya sudah tinggal di pengungsian karena desanya termasuk ke dalam zona merah. Dirinya mengatakan, sejak saat itu dirinya terpaksa menjalani puasa dan lebaran di lokasi pengungsian.

Saat ditanya pengalamannya selama puasa dan lebaran, dirinya mengaku suasana di pengungsian sangat berbeda dengan di kampungnya. Salah satu suasana yang jelas berbeda adalah, saat lebaran tiba. Karena, saat di kampung dirinya bersama adik-adiknya berkumpul di rumah orang tuanya yang juga di kampung yang sama.

“Jelas beda lah, kalau di kampung dulu, pas lebaran sama keluarga bisa bareng-bareng kumpul di rumah orang tua. Tapi sekarang sudah enggak bisa lagi karna kan sudah pencar-pencar,” ujar Lidiawati, di lokasi Hunian Sementara (Huntara), Jalan Kiras Bangun, Simpang Empat, Senin (27/5/2019).

Wanita berbaju biru itu mengaku, sangat merindukan suasana Ramadan dan lebaran di kampungnya. Dirinya menyebutkan, sudah sejak beberapa tahun terakhir tidak merasakan indahnya kebersamaan bersama keluarga di bulan suci ini.

“Rindu lah di kampung, karena bisa kumpul sama-sama di rumah orang tua. Udah gitu, adik-adik kita semua kan kumpulnya di rumah orang tua kita. Kalau sekarang, ibaratnya mau jumpa sama orang tua sudah susah, entah rindu sama mamak kalau dulu kan bisa tinggal jalan, tapi sekarang udah pencar tinggalnya,” katanya.

Selain itu, dirinya mengaku selama bulan puasa tinggal di pengungsian tentunya banyak perbedaan yang dirasakan ketika di kampung dulu. Dirinya menyebutkan, jika dulu saat di kampung dirinya dengan warga lainnya mudah untuk melakukan shalat tarawih.

Namun, saat tinggal di pengungsian mereka harus keluar dari lokasi Huntara untuk shalat ke masjid yang berjarak sekitar 500 meter. Terlebih, di masjid tersebut terkadang tidak cukup menampung jamaah yang berasal dari beberapa desa lain yang juga mengungsi di lokasi tersebut.

“Pasti lebih enak di kampung lah, kalau di kampung mau tarawih enggak jauh dari rumah. Kalau di sini masjidnya kan harus ke simpang sana kita, sudah gitu kadang enggak muat karena jamaahnya dari kampung-kampung lain yang ngungsi juga,” ucapnya.

Warga lainnya Mariani bru Barus, juga merasakan hal serupa. Wanita yang sudah sejak 2017 tinggal di Huntara itu, mengaku merindukan suasana kebersamaan di kampungnya. Meskipun saat ini kehidupannya sudah tidak jauh berbeda dengan di kampung dulu, namun tetap saja dirinya mengaku lebih enak tinggal di kampung.

“Sudah hampir samanya sekarang, tapi kalau dulu pas tinggal di posko agak payah memang. Kalau di posko kan kita enggak bisa apa yang kita mau, karena masaknya sama-sama. Kalau entah buka kita pengin bubur, kan tinggal masak, tapi kalau di posko enggak bisa, dandang kita pun enggak ada,” katanya.

Wanita berbaju ungu itu mengatakan, salah satu hal yang paling diingatnya saat di kampung dulu adalah ketika malam lebaran. Dirinya menyebutkan, jika dulu setiap malam lebaran mereka selalu menyewa mobil untuk jalan-jalan merayakan malam lebaram bersama keluarga atau warga lainnya. Namun saat ini, suasana seperti itu hanya tinggal kenangan.

“Ada dulu kami pakai mobil untuk takbiran keliling, jalan-jalan entah ke Berastagi atau ke Gundaling kami sama-sama,” pungkasnya.

(cr4/Uri.co.id)  ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!