Keluarga Almarhum Rajem Tak Terima Terdakwa Pembunuhan Dituntut 18 Tahun

oleh

Uri.co.id – Edy Syahputra (55) dan Edi Sukiwan alias Iwan Jo (38) terdakwa pembunuhan Rajem dituntut 18 tahun penjara di Ruang Cakra 7 Pengadilan Negeri Medan, Rabu (22/5/2019).

“Menuntut terdakwa Edy Syahputra dan Edi Sukiwan alias Iwan Jo dengan pidana Pasal 339 Jo pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHPidana tentang pembunuhan disertai pencurian dengan hukuman pidana 18 tahun penjara,” tuturnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Elvina Elisabeth Sianipar dihadapan Ketua Hakim Jarihat Simarmata.

Sontak, hal ini membuat kerabat sekaligus saksi dalam perkara ini Saun Rajin yang menunggu di luar sidang tak terima dengan tuntutan itu.

“Hukuman mati harusnya ini dua orang ini, melihat bagaimana kejamnya mereka dan aniaya seorang ibu yang hanya sendirian tinggal di rumah tidak berdaya. Orang susahnya ibu ini saya tetangganya yang tiap hari beri makan,” tegasnya.

Ia menegaskan pihaknya akan melakukan upaya hukum apabila nantinya tuntutan lebih rendah diberikan majelis hakim.

Reskukernya belum dicabut belum sempat makan siang, awak datang jam tengah 9 malam, biasanya kupanggil langsung keluar

“Jadi ibu ini enggak punya saudara, kamilah saudara, adik bapak istri saya ini, jadi bibi kami. Pastinya kita akan upaya hukum, ini sangat mengerikan, saya saksi utama malam-malam datang udah terbunuh dan dicuri semua barangnya. Padahal pembunuhnya itu pernah benerin pintu rumah terdakwa, tega sekali sangat bengis patutnya dihukum mati itu,” tegasnya.

Selama pembacaan tuntutan, baik Edy dan Iwan Jo tampak lebih tenang, sesekali mereka hanya bisa tertuntuk. Namun, mereka tampak antusias mendengarkan tuntutan yang dibacakan Jaksa.

Dalam pembacaan dakwaan sebelumnya, JPU Elvina membeberkan bahwa awal mula kasus ketika kedua terdakwa sepakag mencuri di rumah korban karena tidak memiliki uang dalam perbincangannya.

“Bermula di tahun baru 1 Januari 2019 dimana Edi Sukiwan alias Jo mendatangi Edy Syahputra dan mengobrol. Selanjutnya Jo mengatakan kepada Edy saya tidak punya uang, ayo kita ambil kayu dan seng di rumah kosong milik Rajem (korban) yang terletak di samping rumah korban di Gg. Setia, Tanjung Sari,” tuturnya.

Lalu, JPU melanjutkan Edy mengiyakan permintaan rekannya dan berkata “Ayo apa bisa naik sepeda motor.” dan dijawab terdakwa Jo “ayo kita lihat dulu”.

Selanjutnya keduanya berangkat menuju tkp dengan sepeda motor, namun sebelumnya mereka menjumpai Tri Adi Winaga untuk menjaga di luar rumah.

“Lalu Jo menyuruh Tri Ardi, Tri kau lihat-lihat di luar karena abang mau masuk ke rumah sewa korban yang kosong di sebelah rumah korban untuk mencuri kayu dan seng, kau jaga-jaga di luar jika ada orang yang datang kau beri kode tepuk tangan atau melempar seng rumah korban. Dan Tri mengiyakan dengan menganggu kepala,” tambah Elvina.

Lalu kedua terdakwa langsung masuk ke halaman rumah korban dan langsung menuju samping sebelah kanan di rumah sewa korban yang kosong.

“Keduanya langsung mempreteli rumah tersebut dengan mengambil kayu broti dengan cara menariknya dan mengambil kayu di rumah korban yang kosong,” tuturnya.

Lalu korban Rajem ternyata mendengar ada yang mencurigakan yang terjadi di rumah kosongnya dan akhirnya memergoki kedua terdakwa yang sedang mencuri.

“Tiba-tiba korban muncul dari celah-celah tembok rumahnya dan memak- maki para terdakwa ,” teriaknya.

Langsung saja kedua terdakwa mengejar korban dari belakang rumah korban yang bolong dengan cara memanjat. Lalu Edi masuk ke dapur korban yang tidak terkunci pintunya.

“Lalu karena melihat terdakwa datang, korban langsung lari ke kamar tidur sambil berteriak, melihat itu Jo langsung memiting badan korban dan Edy langsung menangkap tangan korban dan di ikat ke belakang dengan tali tas warna biru yang ada di kamar korban. Setelah itu korban di jatuhkan ke tempat tidur dan langsung mengikat kaki korban dengan seprai. Langsung saja korban meronta dan memaki-maki,” beber Jaksa.

JPU menerangkan setelahnya terdakwa Edy menjatuhkan korban ke tempat tidur dengan posisi telentang dan Jo langsung membekap mulut korban dengan tangan kanan dan tangan kiri mencekik leher korban, sampai korban lemas.

“Setelah korban lemas, ikatan tangan korban dibuka dan diikat kembali lagi dengan posisi kedua tangan di atas kepala. Selanjutnya Edy mengambil anting-anting yang dikenakan korban dan Jo mengambil kalung emas yang di pakai korban,” tuturnya.

Setelah itu Edy menjaga korban yang sudah lemas sedangkan Jo langsung membongkar lemari pakaian korban untuk mencari barang – barang berharga milik korban.

Dari lemari pakaian terdakwa hanya mendapat gelang imitasi dengan mainan batu biasa.

“Lalu setelah melihat korban dalam kondisi sudah lemas dan tidak berdaya lagi keduanya pergi meninggalkan korban dan keluar melalui pintu depan rumah korban,” tambahnya.

Setelah di luar keduanya langsung pergi ke belakang Pam Tirtanadi untuk melihat barang-barang yang berhasil di curi.

“Selanjutnya gelang imitasi bermainan batu biasa dibuang sedangkan perhiasan emas langsung dibawa ke pajak Sei Sikambing dan setelah sampai di pajak, Jo menjual perhiasaan tersebut kepada seorang laki – laki yang tidak dikenal seharga Rp 15 juta,” terangnya.

Lalu hasilnya dibagi menjadi tiga bagian, dimana terdakwa Jo mendapatkan Rp6 juta, Edy mendapat bagian Rp 6 juta sedangkan Tri Adi Winata mendapatkan Rp2 juta.

Terakhir jaksa menjelaskan hasil visum et repertum dari RS Bhayangkara mendapati kesimpulan penyebab kematian korban akibat mati lemas (asfiksia) oleh karena adanya penekatan pada mulut dan leher.

Sementara seusai sidang, terdakwa Iwan Jo menyebutkan dirinya tidak berniat untuk membunuh hanya ingin mencuri saja.

“Enggak sadar aku bang kalau korban meninggal, aku cuma mau mencuri saja. Jadi pas dia teriak-teriak itu saya cuma berusaha untuk meredam dengan menutup mulutnya. Saya tidak sadar dia itu sudah mati waktu kami tinggal,” tutupnya. (vic/medan.com) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!