Diserang Hama Lalat Buah, Petani Jeruk di Karo Menjerit karena Merugi

oleh

Uri.co.id, TIGAPANAH – Sejumlah lahan pertanian jeruk milik warga di beberapa kecamatan  di Kabupaten Karo dikabarkan terserang hama lalat buah.

Salah satu kawasan yang ikut terkena imbas, ada di Desa Kacinambun, Kecamatan Tigapanah.

Seorang petani jeruk Fajar Ginting, mengungkapkan kondisi ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Dikatakannya, akibat dari serangan hama tersebut banyak buah jeruk milik petani rusak.

“Semua jeruk yang kena lalat buah ini langsung rusak buahnya, terus jatuh dia karena busuk,” ujar Fajar, Jumat (17/5/2019).

Fajar mengatakan, lalat yang hinggap di jeruk merusak buah melalui suntikan racun dari bagian bawah tubuh lalat.

Dirinya menyebutkan, antara lalat jantan dengan betina sama-sama meninggalkan lubang yang membuat jeruk busuk. Namun, untuk lalat betina membawa dampak yang lebih buruk karena dapat bertelur di dalam jeruk.

“Kalau yang jantan cuma bikin busuk aja, tapi kalau yang betina mau dia bertelur di dalam buah. Nanti pas sudah jatuh, anak-anak lalat jadi makin banyak,” ucapnya.

Dengan rusaknya hasil tanaman ini, Fajar mengungkapkan tentunya membawa dampak buruk bagi hasil panen. Dirinya mengaku, selama lima tahun terakhir produksi jeruk dari ladangnya selalu menurun. Dikatakannya, kondisi paling parah dirasakan para petani pada satu tahun ke belakang.

“Khususnya di sini tahun ini paling parah kita rasakan, karena seluruh ladang jeruk yang ada di desa ini sudah semuanya terkena lalat,” ucapnya.

Dirinya menyebutkan, dari luas lahan pertanian sebesar dua hektare berisi 900 batang pohon jeruk yang rata-rata berumur sekitar 15 tahun. Dirinya mengaku, sebelum hama lalat buah semakin banyak menyerang, produksi jeruk miliknya bisa mencapai 12 ton setiap satu hektarenya. Namun, karena semakin banyaknya hama lalat buah yang mengganggu lahan pertanian masyarakat, hasil panen menjadi turun drastis.

“Kalau dulu itu bisa kami panen paling banyak itu sekitar 12 ton satu hektare, tapi sekarang dari dua hektare pohon jeruk ini cuma 1,8 ton hasilnya,” ungkapnya.

Fajar mengaku, setiap tahunnya dirinya bisa mengeluarkan dana hingga 80 juta rupiah untuk keperluan pemeliharaan tanaman. Sedangkan setiap panen yang diperkirakan selama enam bulan sekali, dirinya hanya bisa mengantongi uang sebesar Rp 7.200.000.

Pria berbaju putih itu mengungkapkan, jika hama tersebut tak kunjung tuntas mereka tidak bisa melanjutkan untuk tetap membudidayakan jeruk. Dirinya mengaku, beberapa petani di daerahnya telah sepakat jika pada tahun ini hasil panen tak kunjung meningkat maka mereka akan memilih untuk mengganti tanamannya.

“Kalau tahun ini kira-kira enggak bisa berhasil lagi, saya kira kemungkinan besar banyak yang bangkrut petani ini. Apalagi banyak yang bilang kalau tahun ini enggak bisa, banyak yang bilang kita bongkar aja,” pungkasnya.

(cr4/Uri.co.id)  ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!