Perantau di Taiwan, Berbagi Tugas Memasak untuk Sahur dan Berbuka Puasa

oleh

Uri.co.id-Berbagi tugas memasak makanan untuk sahur dan berbuka puasa selalu dilakukan Richard Yanato dan kawan-kawan selama tinggal di Kota Douliu, Provinsi Yunlin, Taiwan.

Puasa tahun ini adalah tahun kedua ia melaksanakan ibadah puasa di negara dengan ibukota Taipe tersebut.

“Di sini saya kuliah dan tinggal di kos dengan beberapa teman dari Indonesia lainnya. Jadi setiap hari kita sama-sama membagi tugas untuk menyiapkan menu buka puasa dan sahur,” ujar mahasiswa S3 tersebut.

Ia menjelaskan, saat Ramadan, untuk sahur dan berbuka puasa ada beberapa makanan Indonesia yang menjadi menu favoritnya yaitu tempe goreng dan ayam goreng.

“Yang pasti tidak akan tertinggal juga adalah sambal dan es teh manis di saat berbuka. Itu makanan favorit saya dan teman-teman di sini. Biasa bumbunya memakai bumbu asli dari tanah air yang dibeli di toko Indonesia yang ada di sini,” jelasnya.

Ia menuturkan, untuk sahur dan buka puasa setiap hari dilakukan bersama-sama dengan mahasiswa Indonesia lainnya yang kebetulan satu kos dengannya.

”Di kampus saya terdapat sekitar 30an mahasiswa Indonesia Muslim, jadi setiap malam kami melakukan Salat Isya dan Tarawih berjemaah di salah satu ruangan di kampus dan setiap akhir pekan juga rutin melakukan buka puasa bersama antara mahasiswa Indonesia di kampus,” tuturnya.

Pada bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya, ia bersama teman-temannya juga membuat acara buka puasa bersama dengan para buruh migrant Indonesia (BMI) yang tinggal di kota kami untuk menjalin tali silahturami antara sesama WNI khususnya yang beragama Muslim di sini.

“Karena di sini Islam minoritas, jika tidak ditanya ataupun tidak ada yang menawari makanan atau minuman, sebenarnya mereka tidak tahu jika saya dan teman-teman Muslim sedang berpuasa. Jika mengetahui kami sedang berpuasa, biasa akan ditanya alasan puasa dan lainnya. Kami berusaha menjelaskan semampunya. Mereka juga Alhamdulillah bisa saling menghargai kami,” ungkapnya.

Richard sudah tinggal di Kota Douliu, Provinsi Yunlin, Taiwan selama 11 tahun, sejak ia masih menjadi mahasiswa S1 hingga saat ini ia sedang menjalani kuliah S3. Namun, baru dua tahun ini menjalankan ibadah puasa karena ia adalah seorang mualaf.

“Sebelum menjadi mualaf, saya sudah merasakan suasana puasa juga. Karena sering ikut sahur dan buka bersama dengan teman-teman yang berpuasa, jadi begitu saya menjalankan ibadah puasa tidak kaget lagi,” tuturnya.

Ia mengatakan, sejak menjadi mualaf, ia juga belum pernah merayakan lebaran di Medan. Setiap kali Ramadan dan Idul Fitri selalu di Taiwan karena masih terdapat jadwal kuliah.

“Tahun sebelumnya hanya lebaran Idul Adha yang dirayakan di Indonesia karena sedang liburan musim panas. Lebaran Idul Fitri tahun ini Insya Allah tetap di Taiwan, namun Idul Adha direncanakan akan kembali ke Indonesia,” katanya. (pra/Uri.co.id) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!